Sabtu, 23 Juli 2016

Rindu yang Tak Terungkap

Rindu yang Tak Terungkap

Malam itu, Sarah hanya terduduk di pojok kamarnya seakan akan dia akan berpisah dengan seluruh keluarga dan temannya. Selembar surat ia tuliskan sebagai ungkapan rindu kepada ayah yang telah meninggal dan ibunya. Malam itu hanya hujan yang menemaninya, seperti tak ada yang peduli kepadanya.
Ibu Sarah masih saja sibuk di depan laptopnya mengerjakan tugas kantornya. Keesokan harinya, terlihat hal yang tidak biasa dari perilaku Sarah.  Sarah yang sebenarnya anak mandiri, pagi itu sangat ingin dimanjakan ibunya. Namun, ibunya tetap saja tak menghiraukannya. Terpendam dalam hati Sarah ungkapan rindu kepada ibunya.
Hari itu, adalah hari sekolah sekaligus hari spesial dalam hidup Sarah. Dia baru saja menginjak umur ke 9 tahunnya. Namun, seakan akan ibunya lupa akan segalanya tentang hal tersebut. “Bu, antar aku ke sekolah.” Pintanya dengan lirih. Ibu Sarah hanya terdiam sambil menyodorkan sepeda sebagai ungkapan penolakan permintaan Sarah. Akhirnya Sarah pergi ke sekolah seorang diri.
Tiba-tiba terdengar keramaian dari kejauhan selang beberapa saat setelah keberangkatan Sarah. Ibu Sarah pun langsung mendekati keramainan tersebut. Dan betapa kagetnya dia setelah melihat apa yang terjadi. Sarah tergeletak dengan luka berat di kepalanya. Ibu Sarah pun langsung melarikannya ke rumah sakit. Dalam perjalanan, Sarah sempat tersadar, “Aku sayang ibu.” Ucapnya dengan lirih. Tanpa disadari ibunya kata-kata itu menjadi kata terakhir di hidup Sarah. Beberapa detik kemudian Sarah menghembuskan nafas terahkirnya. Rasa menyesal menusuk dalam hati ibu Sarah. Teringat selama Sarah masih hidup dia tak pernah membahagiakan satu-satunya anak tercintanya.
Keesokan harinya, ibu Sarah menemukan sebuah catatan kecial di kamar Sarah yang jarang dimasuki orang selain dirinya. Ia membacanya dengan tersedu-sedu.

Ibu.............
Aku rindu kepada ibu.....
Aku ingin bersama lagi seperti dulu....
Seperti saat masih ada ayah bersama ibu...

Aku ingin memeluk ibu....
Tetapi aku tak mampu...

Ibu...
Bila aku pergi lebih dahulu...
Ku nantikan ibu di surgaku...

Rasa bersalah dan menyesal semakin menyelimuti dan menghantui hari-hari ibu. Selang beberapa hari kemudian terdengar kabar ibu Sarah telah jatuh sakit dan tidak lama kemudian meninggal dunia karena stroke.

TAMAT

Oleh:
  1. Dean Farrel R.W.                 XI MIA 2 / 08
  2. Djodi Adhikaputera              XI MIA 2 / 10
  3. Haswin Akbar M.                  XI MIA 2 / 16



CAHAYA TOA JAGSIS


    Suep adalah namaku. Pelajar berumur 16 tahun yang sedang mencari jati diri. Aku melompat jauh dari sebuah pulau di ujung Timur Indonesia dan mendarat tepat di Lembah Tidar. Hampir tersesat aku di Lembah Tidar, lalu menemukan sebuah lembaga pendidikan di kampus semi militer SMA Taruna Nusantara. Aku penasaran, dengan sekolah yang “katanya” luar biasa ini. Apa salahnya jika aku mencoba mengikuti pendidikan di sini? Hari pertama, aku mendapat pembekalan dari sekolah mengenai gambaran masa depan yang diharapkan semua orang. Yaitu, pastilah tentang kiat-kiat sebuah kesuksesan.
  
   Tak ada hujan tak ada petir, aku pun juga tak menduga. Kini aku menjadi seorang menejer klub sepak bola dunia. Mobil, rumah, istri, semua sangat mudah saya dapatkan. Mengunjungi Paman Sam dan memanjat Menara Eiffel sudah menjadi hal biasa. Aku tiap hari berangkat kerja dengan mobil sport termahal di dunia. Ruangan kantorku sangat luas, tetapi tidak seluas lapangan sepak bola di klubku. 

   Sebuah karier tak selalu semulus lapangan futsal. Pastilah ada cobaan yang pernah menimpa. Aku pernah merasakan seperti kehilangan pemain terbaikku karena cedera lapangan dan pemain yang mogok kerja. Kerusakan lapangan bola pun telah aku rasakan. Tetapi, roda kehidupan selalu berputar. Aku sangat bangga saat melihat klub yang aku menejeri. Memegang trofi terbaik dalam sebuah liga bergengsi.



   Menjadi menejer sepak bola tidak mudah. Namun, adalah hal luar biasa yang aku dapatkan saat aku dapat mengaplikasikan jiwa kepemimpinan yang aku dapatkan selama ini.

   Saat pergantian musim, aku berlibur ke kampung halamanku, Indonesia tercinta. Aku mendarat dengan lancar di Soekarno-Hatta. Lalu aku berjalan-jalan ke tempat-tempat hebat di seluruh penjuru Indonesia, sampai akhirnya aku tiba pada sebuah tempat yang membuat aku mengenang sebuah peristiwa. Sepertinya aku pernah mencatat sejarah di tempat ini. Tempat yang sangat luar biasa, megah, dan sakral. Tiba-tiba ada sebuah cahaya yang berpusat dari bangunan bersegi lima.

"Wahai penerus-penerus bangsa. Bangunlah!!! Bangunlah!!! Olahraga pagi!!!!!!”

   Suara tersebut yang membangunkanku dari tidur nyenyakku. Ternyata semua kesuksesan dan kebahagiaan tadi hanyalah dalam mimpiku dan di sinilah aku berada. Di tempat yang sangat luar biasa, megah, dan sakral. Aku menyadari bahwa sebuah kesuksesan tidak semudah itu aku dapatkan, hanya dengan datang, mengikuti pengarahan, dan bersantai-santai.

   Aku yakin semua itu dapat aku raih dengan usaha kerasku di kampus tercinta ini. Seperti cerita dalam mimpiku. Aku akan mengenang sebuah peristiwa dan pelajaran indah saat aku kembali di kampus ini. Sebuah kesuksesan tidak ada yang instan. Dan sebuah usaha keras tak akan menghianatiku.

   Kini aku akan memulai hari dengan semangat dan kesungguhan untuk meraih cita cita dengan menimba ilmu di kampus luar biasa ini. Aku awali dengan berolahraga pagi. Selesai.
 


Oleh :
1.  Aditya Kristiaji (01)
2.  Ajeng Pramudita (03)
3.  Syahrizal Giovanni H (30)

Sebuah Peringatan



            Aku beranjak dari tempat tidurku menuju kamar mandi dan bersiap siap berangkat ke kantor. Kulangkahkan kakiku menjauh dari rumah. Setiap hariku jalani hariku seperti ini. Tak ada yang spesial. Hanya mencari uang, uang dan uang. Perjalananku menuju kantor sangatlah menyusahkan karena tidak ada kendaraan umum yang lewat. Apalagi aku belum mempunyai kendaraan pribadi.

            Seperti biasa, aku melewati sebuah gang sempit yang kumuh dan penuh gelndangan. Aku sebisa mungkin menjauhi mereka. Biasanya, aku pura pura tak menatap mereka dan mempercepat langkahku. “Pak... tolong pak.. hanya sepeserpun tak apa.. kami belum makan tiga hari” kata salah seorang pengemis yang sepertinya sudah paruh baya. Walaupun begitu, hatiku tak tergerak sedikitpun. Bagiku itu hanya aksi semata, setelah kuberi uang paling-paling mereka hanya menghaburkannya. Seharusnya mereka lebih giat lagi, tidak hanya meminta minta.

            Kupercepat lagi langkahku. Anehnya, kakek yang tadi meminta uang padaku malah mengikutiku. Ckk.. bisa telat ini.. gerutuku dalam hati. “Pak... tolong pak” kata kakek tersebut, kali ini dengan suara yang terisak. “Pergilah!” bentakku kesal lalu pergi meninggalkan kakek tersebut setengah berlari. Bukannya menyerah, kakek tersebut malah balik mengejarku. Aku yang kesal berteriak minta tolong. Tiba tiba Pak Romi rekan kerja sekaligus sainganku di tempat kerja datang. Aku tak heran, mengapa ia lewat gang tersebut juga, karena rumah kami hanya beberapa langkah atau bisa dibilang bahwa kami tetanggaan. Berbeda denganku yang histeris dan kesal menghadapi sang pengemis, Pak Romi hanya tersenyum dan memberikan beberapa roti bungkus. “Terima kasih” gumam sang pengemis lalu kembali ketempatnya. Pak Romi tetap membalasnya dengan senyuman. Aku hanya menatap jijik sang pengemis.

            Selama perjalanan aku masih memikirkan, kenapa Pak Romi mau memberi rasa kasihannya kepada sang pengemis. Bukannya kita semua tau bahwa itu hanya sebuah kebohongan belaka, hanya sebuah drama di kehidupan. Aku pun bertanya kepada Pak Romi tentang hal tersebut. Tetapi ia hanya tersenyum dan berkata, “bukannya berbagi itu indah” lalu dia meninggalkanku.

            Sepulang kerja, seperti biasa aku langsung menuju pulang. Karena tidak ingin kejadian tadi pagi terulang, Aku meminta tolong temanku yang mempunyai kendaraan dan arah pulangnya sama untuk ikut pulang dengannya. Aku tak kan jalan kaki bersama Pak Romi, bisa bisa aku masuk ke tempat kumuh itu. Aku tak mengerti dengan Pak Romi, mengapa ia mau menghabiskan uangnya hanya untuk pengemis. Alah.. buat apa aku memikirkan Pak Romi, menghabiskan waktu saja.

               Setelah sampai di rumah, Aku langsung membanting tubuhku ke sofa. Aku sangat pusing dengan kerjaan di kantor. Walaupun perutku sudah memainkan lagu keroncong, rasa malas tubuhku mengalahkannya. Lama kelamaan akupun terlelap.

***

            Aku terbangun di dalam sebuah gubuk reyot yang sama sekai tak terurus. Aku panik, tapi tak bisa berkutik. Ku pejamkan mataku lagi agar aku kembali ke tempat asalku. Namun, hal itu sia-sia. Aku melihat pantulan diriku di sebuah cermin kumuh. Ada yang aneh, diriku lebih tua dan lebih kotor.

            Tiba tiba ada yang mengetuk pintu gubuk itu. Lima atau lebih preman mendatangiku. “Mana uangnya?” teriak mereka. Aku kebingungan, kurogoh saku ku yang ternyata terdapat beberapa receh di saku. Mereka tampak kecewa dan menggebuki diriku.

            Hari semakin siang, perut ku semakin lapar. Aku melihat sebuah tudung saji di sebuah meja yang kusam. Aku buka dengan semangat berharap ada ayam goreng kesukaanku disitu. Namun hal yang aku impikan jauh dari kenyataan, hanya sebuah piring kosong yang ada disitu. Aku hanya meringis sedih dan mengelus perutku yang sudah keroncongan.

            Seketika pikiran ku menuju ke pengemis yang tadi pagi aku temui. Aku yakin, hal ini sering menimpa padanya. Aku sangat menyesal telah melakukan hal itu padanya. Aku pun berdo’a kepada tuhan agar ini semua hanyalah dunia fana bukan kenyataan yang tiba tiba. Ku pejamkan mataku tuk berdo’a. Lalu...

            Aku terbangun di sofa rumahku. Ada perasaan lega dan syukur dalam diriku. Hal – hal yang tadi menimpa padaku hanyalah sebuah mimpi yang diberikan tuhan kepadaku. Mimpi tersebut adalah sebuah peringatan kepadaku agar aku tetap bersyukur dan tidak menghardik fakir miskin disekitarku. Mimpi ini berupa karma. Mulai detik ini aku bertekad dalam hati, agar diriku menjadi lebih baik lagi.  
oleh :
Akbar Alfaris Nasution (04)
Dellysha Naomi Riadh (09)
Nuris Faisal Hafidz (27)
XI MIPA 2

Teguran yang Berakhir Bahagia

  
               Pada hari Sabtu hari pertama ulangan harian telah berlalu. Ulangan yang hari itu saya lewati terasa sulit untuk dikerjakan bagi saya. Karena kesulitan yang saya hadapi, saya bertekad untuk belajar lebih giat untuk kesiapan ulangan esok hari.

           Sepulang sekolah disaat senja, saya belajar seorang diri sembari duduk di jendela. Entah mengapa hal itu tidak saya sadari hingga seorang teman saya menegur bahwa duduk di jendela adalah hal yang salah. Saya merasa cemas hingga tubuh saya berkeringat. Beberapa saat kemudian, teman yang menegur saya tadi memberitahu saya bahwa ada satu senior yang menghampiri saya. Kemudian sayapun mendatangi senior tersebut dalam keadaan cemas, panik, dan tubuh yang bergetar.

              Saya mendatangi senior tersebut, dan mendapat teguran kembali yang disertai hukuman. Hukuman yang saya dapat adalah menahan posisi push-up dalam kurun waktu 15-20 menit. Lalu senior lain datang karena penasaran kenapa ada junior yang dihukum ketika masa ulangan. Senior lain tersebut bertanya mengenai kesalahan saya, maksud dan tujuan saya duduk di jendela. Kemudian ia memberi hukuman tembahan kepada saya yaitu 20 kali push-up serta masukkan agar tidak mengulangi kesalahan tadi.

                Malam hari setelah kejadian sore tadi, saya masih kepikiran hingga saya tidak bisa tidur dan hal itu masih berkelanjutan hingga hari-hari berikutnya. Pada suatu hari abang tersebut menghampiri saya kembali dan menyuruh agar saya duduk dengan abang tersebut setelah UH.

           Beberapa hari setelah UH saya meng hampiri abang tersebut untuk duduk satu meja dengannya dan abang tersebut menjelaskan alasan kenapa saya dihukum waktu sore itu, semenjak hari itu saya sering duduk dengan abang itu, dan akhirnya kita saling mengenal hingga menjadi teman baik.

Oleh : 
Ahmad Zaky Andhika 02
Arie Lasmana 05
Shifa Veronica 28
  

Kegiatan PDK SMA Taruna Nusantara Angkatan XXVI

PDK adalah sebuah tradisi SMA TN untuk melatih kedisiplinan dan kepemimpinan para siswa kelas X selama 3 bulan pertama di kampus SMA TN. Selain itu, PDK juga pertujuan supaya siswa kelas X dapat terbiasa dengan kehidupan di SMA TN. PDK merupakan sebuah singkatan dari Pendidikan Dasar Kedisiplinan dan Kepemimpinan.
  • Kegiatan Pra-PDK

Pada bulan Juli 2015, seluruh calon siswa angkatan ke-26 datang dari daerah masing masing ke kampus SMA TN. Selama kegiatan pra-PDK yang berlangsung 8 hari, siswa melakukan pendaftaran ulang dan wawancara oleh pamong. Pada kegiatan pra-PDK juga diadakan tes peminatan penjurusan.

Di kegiatan pra-PDK terdapat perkenalan wali graha, pamong graha, dan pendamping graha. Di kegiatan pra-PDK sudah mulai dilatih untuk disiplin, memimpin, dan dipimpin. Setelah sekitar 8 hari, siswa kelas X, XI, dan XII diizinkan untuk cuti setelah menyelesaikan upacara Pembukaan Pendidikan. 

  • Balik Cuti dan MOPDB

Setelah masa cuti selesai, para siswa kelas X kembali ke kampus SMA TN untuk mengikuti kegiatan MOPDB. Di kegiatan MOPDB, siswa kelas X diperkenalkan dengan seluk-beluk TN. Dalam MOPDB, banyak acara sambutan dan pengarahan dari kepala sekolah, para wakil kepala sekolah, serta pamong. 

Selain pengarahan dan sambutan, terdapat acara orientasi bersama abang dan kaka, seperti pengenalan seragam, lagu-lagu baru, dan lain lain. Kegiatan MOPDB ditutup setelah 3 hari berjalan, dan diadakan post-test. Pada saat itu juga, secara resmi kegiatan PDK dimulai.

  • Kegiatan PDK

Kegiatan PDK angkatan ke-26 diisi oleh banyak acara eksternal seperti SMK dan Job Fair, IOAA, Lustrum, dan Upacara Kemerdekaan 17 Agustus. Selain itu juga ada acara internal PDK, seperti RPS, PKT, dan Persami. 

Sebelum kegiatan RPS dan PKT, diadakan kunjungan ke kediaman Sultang Hamengkubuwono XII. Disana kita mendapat banyak ilmu, salah satunya ketika beliau berkata, "Dalam hidup ini, semua orang sukses memiliki satu kesamaan, yakni konsisten. Selain itu, kita harus mempelajari sesuatu  sampai paham a-z.". 

  • Makan di RKB

Makan di RKB adalah sebuah kegiatan yang menakutkan bagi siswa kelas X, karena kita harus menegakkan Table Manner yang telah sesuai prinsip dan tujuan SMA Taruna Nusantara. Saat makan di RKB, yang paling dihindari adalah makan bersama abang atau kakak. Karena, terkadang kita harus "Balapan Makan" dengan abang atau kakak tersebut. 

  • Manfaat

Dari kegiatan PDK yang telah kita alami, kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa PDK melatih mental dan disiplin para siswa kelas X. Selain itu, kita juga lebih menghargai kerja keras orang tua, demi hidup kita. Karena seperti yang kepala sekolah kami katakan, "Kalian disini belajar untuk hidup, dan hidup untuk belajar"



Penulis :
 I Gede Aditya P. P.

 M. Marshal Nugroho.
 M. Raihan

Surat dengan Amplop Biru

Surat dengan Amplop Biru
Hari ini genap setahun aku meninggalkan rumah guna menuntut ilmu di kota pelajar, Yogyakarta.  Ku tinggalkan orang-orang yang kucintai disana. Rasa rindu yang teramat sangat kurasakan pada rumah terus menghantuiku. Entah berapa ember air mata yang telah kuhasilkan dari rasa rinduku. Memang ini adalah jalan hidup yang kupilih sendiri untuk hidupku. Bagiku, pendidikan merupakan hal yang utama dalam hidup ini. Meninggalkan kampung halaman tercinta demi menempuh pendidikan di kota ini artinya aku harus siap dengan semua resiko yang akan kuhadapi. Aku percaya bahwa  rasa rindu, takut, marah dan perjuangan berat yang aku alami saat ini akan berbuah kebahagiaan bagi diriku dan keluargaku tercinta.

Hari ini merupakan hari ulang tahunku. Ulang tahun pertama yang kurayakan tanpa kehadiran keluargaku disisiku. Hari ulangtahun yang biasanya aku rayakan dengan keluarga, teman, dan sahabat – sahabatku, hanya tinggal kenangan saat ini. Sepucuk surat beramplop biru muda yang datang didepan pintu kamar kosku merupakan sebuah hadiah yang ibu berikan padaku. Saat menerimanya, rasa sedih dan air mata yang tak terbendung mulai membasahi mataku saat aku membacanya.

"Teruntuk anakku tercinta, Fatimah yang sedang dalam perantauannya.

SELAMAT ULANGTAHUN ANAKKU TERCINTA!!
Ibu, Ayah, dan Adik sangat bangga atas apa yang telah kamu lakukan selama ini.
Kami selalu mendoakan yang terbaik bagimu.
Kami sangat rindu padamu. Ibu berharap kamu selalu berada dalam lindungan Yang Maha Kuasa.
Ibu tahu kamu rindu akan masakkan ibu. Biasanya kita selalu merayakan ulangtahunmu dengan memotong tumpeng kesukaanmu.
Surat ini merupakan wujud hadiaah yang dapat ibu dan ayah berikan untukmu.

Fatimah sayang,
      Lampu belajar masih menemani. Buku masih terbuka. Berjam-jam duduk di meja belajar. Mata terus membaca, tangan mencatat di buku tulis. Di kamar yang mungil, jauh dari kampung halaman.
Kamu pasti masih mengingat saat kami mengantarkanmu  melepas bersekolah jauh. Kristal butiran air mata Ibu saat melepas anak tercintaya berangkat seakan cermin jernihnya cinta. Bagi kami, kamu adalah cinta berbalut harapan. Kami melepaskanmu untuk merantau jauh demi pendidikan yang lebih baik; melepaskannya dengan cinta, mengalunginya dengan harapan, dan menyematkannya doa tanpa akhir.

Ibu dan Ayah yakin jalan hidup yang kamu pilih ini akan mengantarkanmu menuju kesuksesan. Yakinlah nak, bahwa pendidikan bisa mengantarkan pada kehidupan yang lebih baik. Jadikan pendidikan sebagai tangga untuk menuju cita-cita, menuju harapan. Tiap hari satu anak tangga dilewati. Anak muda sepertimu memang seharusnya pilih jalan mendaki. Jalan berat penuh tantangan tapi bisa mengantarkan ke puncak. Jadikan perpisahan dengan keluarga itu sebagai awal perjumpaan dengan cita-cita.

Fatimah, ketahuilah bahwa dalam setiap tiap lembar bacaan, ada doa Ibu dan Ayah. Pada tiap karya tulis dan pekerjaan dari guru atau dosen, ada harapan dari Ibu dan Ayah. Kami mungkin tidak tahu satu per satu yang dikerjakan anaknya, tapi kami tak pernah berhenti hibahkan semua yang kami miliki untuk kebaikan dan kebahagiaanmu.

Janjilah kepada Ibu dan Ayah, suatu hari nanti kami akan melihat anak perempuan yang sangat kami cintai pulang membawa ilmu, membawa makna dan menjawab semua doa dengan melampaui  harapan Ibu dan Ayah. Izinkan kami kelak menyongsongmu dengan rasa bangga dan syukur. Doa tulus yang selalu kami tuturkan  dijawab oleh keberhasilan anaknya.

Sekali lagi, SELAMAT ULANG TAHUN."

Salam Sayang
Ayah dan Ibu.



Ketika selesai membaca surat itu, air mataku sudah tak tertahankan. Isak tangisku terdengar dengan jelas.  Setelah itu, terdengar suara ketukan pintu dari kamar kosku. akupun segera mengusap air mataku dan segera berlari membukakan pintu. Ketika pintu kubuka......  terdapat 3 orang yang berdiri dengan tegap dan tatapan yang selama ini kurindukan. Keluargaku. Segera saja kupeluk mereka dengan erat. Beban hidup yang selama ini berada di pundakku seketika menghilang. "AYAH, IBU, ADIK!!!"  Hanya itu yang dapat kuucapkan pada mereka. "Selamat Ulang Tahun anak perempuan ayah" Ayah membalas ucapanku sambil mengelus kepalaku. 
















Disusun oleh :
Kanaya Ratu Aprillia (18)
Mahayu Sarita (20)
M. Rizqi Ramadlan (25)

Masa Putih Abu-Abu

Masa-masa putih abu-abu adalah masa-masa yang terindah. Saat itu kami baru menginjak kelas x yang masih bingung akan lingkungan SMA Taruna Nusantara dengan penuh bahagia, penuh canda tawa kami bersemangat menuju impian.a

Kami mengalami berbagai tantangan dan rintangan terutama saat kami sedang PDK ( Pendidikan Dasar Kepemimpinan dan Kedisiplinan ). Saat awal pdk, kami di targetkan harus disiplin terhadap waktu, respect pada abang dan kakak, juga pamong. Mulai dari jam 04.45 sampai dengan 22.00 kegiatan kami sudah dijadwalkan. Masa masa pdk adalah masa masa yang menurut kami melelahkan, tidak hanya fisik tapi psikis. Banyak diantara kami yang merindukan orang tua atau dengan istilah homesick.

Bahkan ada salah satu dari kami, yang ketika tidur ia ngelindur akan orang tuanya. Bahkan saking kepikirannya dengan kegiatannya disekolah, ia mengelindur "maaf kak izin membantu". Kadang kami sampai tidur sampai larut gara gara belum mencuci pakaian, belum mengerjakan PR dan lain lain.

Kami juga mengalami berbagai tantangan dan rintangan terutama terhadap mapel matematika, fisika dan mapel lainnya, mapel mapel itu adalah hantu bagi kami. Sahabat- sahabat disekolahpun banyak yang tidak bisa. Setiap guru memberi tugas kami jalan kesana kemari untuk bertukar pikiran kepada teman-teman yang lebih pintar. 

Setiap ada PR tidak bisa tidur, matematika bagaikan hantu yang selalu membayangi hidup kami. Bahkan disetiap hembusan nafas kami tertulis matematika besok pagi tugas……tugas……..tugas……sampai-sampai rela tidak tidur semalaman digraha. 

Ada pula kegiatan terprogram yang dilaksanakan saat PDK, yaitu Naik tidar, ziarah makan pahlawan, Rute Panglima Sudirman (RPS), PKT dan Pembaretan. Untuk mendapatkan baret biru kamu, kami harus melewati semua kegiatan itu. Dimulai dari naik tidar lalu ziarah makan pahlawan yang nantinya dilanjutkan dengan RPS. 

Perisapan kami untuk RPS selama hampir 1 bulan. Sebelum kami RPS biasanya kami disemangati oleh abang kakak dengan memberi makanan kecil/ barang yang dibutuhkan saat RPS. Biasanya diberikan malam sebelum kami melakukan RPS. Ternyata RPS bukanlah hal yang mudah dilakukan. Kami harus berjalan jauh dengan membawa tongkat dan beban yang lumayan. Saat jalan kami juga bergilir membawa tandu Panglima Sudirman. Kami harus menahan haus dan panas, di tiap 4,5km kami diberikan tempat istirahat. Jalan yang kami tempuh tidak lurus saja, tapi banyak bebatuan dan naik turun tanjakan.

Walaupun RPS sangat melelahkan namun itu sebanding dengan apa yang kami terima saat PKT dan pembaretan. Kami mendapatkan baret biru sebagai tanda bahwa kami adalah siswa SMA Taruna Nusantara. Kegiatan terakhir bagi kami adalah penutupan PDK. Latihan rutin selama hampir 2 minggu juga sangat melelahkan. Kami diajarkan baris berbaris, deviley yang cukup membingungkan, PBB tanpa aba aba, dan line dance. Latihan kami dimulai dari pagi setalah makan hingga malam bel apel malam. 

Saat tuped tiba, kami sangat senang karna kami dapat bertemu dengan orang tua kami setelah 3 bulan tidak bertemu dan tidak berkomunikasi. Namun sebelum kami bertemu dengan orang tua, ada tradisi dimana orang tua harus mencari kami yang sedang membentuk labirin lingkaran dan kami tidak menampilkan wajah kami. Banyak orang tua yang salah menarik anak, dan ada juga yang belum bertemu orang tuanya. Setelah tuped, kami mendapat IB (izin bermalam) 1 hari. Setelah itu kami kembali ke kampus dan melanjutkan belajar.

Banyak hal hal yang kami dapatkan dari pdk ini. Kalimat yang selalu menjadi pegangan kami adalah kalimat dari guru kami yaitu "3 hari untuk 3 bulan, 3 bulan untuk 3 tahum, 3 tahun untuk selamanya".




nama : flora kun annaba (12), aya atira abya (7)